DUA FRASA DALAM SATU RASA : (Hāżā Min Faḍli Rabbī – Hāżā Raḥmatu Min Rabbī) Oleh, Dr. Rahmin Thalib Husain, M.Th.I

Ada saat dalam kehidupan kita, ketika seseorang berdiri pada puncak keberhasilan jabatan, penghormatan pun datang, pengaruh kian meluas, dan hasil kerja tampak nyata di hadapan mata. Pada saat itulah titik tertinggi manusia paling rentan kehilangan kesadaran terdalam tentang asal segala pencapaian. Di tengah ketidakseimbangan rasa itu, dalam khazanah spiritual Islam, dua frasa Qur’ani menghadirkan kedalaman makna yang relevan bagi kepemimpinan modern, “Hāżā min faḍli rabbī” (Ini termasuk karunia Tuhanku) dalam al-Qur’an QS. An-Naml : 40, dan “Hāżā raḥmatun min rabbī” (Ini adalah rahmat dari Tuhanku) dalam al-Qur’an QS. Al-Kahfi : 98.
Kedua ungkapan ini bukan sekadar doa atau ekspresi spiritual, melainkan fondasi kesadaran moral yang menuntun manusia agar tidak terperangkap pada keangkuhan intelektual maupun euforia kekuasaan. Di sinilah kepemimpinan menemukan akar terdalamnya: kesadaran bahwa pencapaian bukan sepenuhnya hasil kemampuan diri, melainkan perjumpaan antara ikhtiar manusia dan kemurahan Tuhan.

Frasa “Hāżā min faḍli rabbī” diucapkan oleh Nabi Sulaiman ketika menyaksikan singgasana Ratu Bilqis hadir di hadapannya dengan cara yang melampaui kebiasaan manusia. Menariknya, Nabi Sulaiman tidak merespons peristiwa luar biasa itu dengan glorifikasi diri, melainkan dengan kesadaran spiritual yang mendalam bahwa semua itu adalah faḍl karunia Tuhan. Secara interpretatif, ayat ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak dapat dibaca semata-mata sebagai konsekuensi linear dari kecerdasan, pengalaman, atau kekuatan personal. Dalam konteks kepemimpinan sosial, seorang pemimpin yang matang tidak mudah mengklaim keberhasilan sebagai produk tunggal kapasitas dirinya, sebab di balik setiap capaian terdapat jaringan pertolongan: kerja kolektif, kepercayaan publik, momentum sosial, bahkan takdir yang bekerja secara senyap. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati yang menjaga seseorang dari merasa paling berjasa.

Sementara itu, frasa “Hāżā raḥmatu min rabbī” lahir dari lisan Dzulqarnain setelah berhasil membangun benteng pelindung bagi masyarakat dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj. Jika faḍl berbicara tentang asal keberhasilan, maka raḥmah berbicara tentang arah keberhasilan itu sendiri. Dalam perspektif ini Keberhasilan kepemimpinan tidak berhenti pada capaian simbolik, melainkan harus diterjemahkan menjadi kebermanfaatan sosial. Pemimpin tidak cukup dipuji karena keberhasilannya membangun sistem, tetapi perlu diukur sejauh mana sistem itu menghadirkan perlindungan, rasa aman, dan keadilan bagi masyarakat. Banyak kepemimpinan modern gagal memperoleh legitimasi moral bukan karena kurang prestasi, melainkan karena prestasi tersebut tidak menghadirkan rasa keadilan sosial. Pada titik ini, rahmat menjadi indikator kualitas etis dari sebuah kekuasaan.

Jika kedua frasa tersebut ditelaah secara mendalam, maka tampak bahwa Islam menawarkan keseimbangan antara spiritualitas personal dan tanggung jawab sosial dalam kepemimpinan. “Hāżā min faḍli rabbī” menanamkan kesadaran vertikal bahwa pencapaian harus melahirkan kerendahan hati, sedangkan “Hāżā raḥmatu min rabbī” membangun kesadaran horizontal bahwa keberhasilan harus berdampak bagi orang lain. Banyak pemimpin hari ini terjebak pada jebakan performatif: sibuk membangun citra keberhasilan tetapi langka kebermaknaan sosial. Mereka menikmati pujian atas capaian, tetapi gagal menghadirkan rasa aman dan harapan bagi masyarakat yang dipimpin. Dalam perspektif ini, keberhasilan tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi keangkuhan, sedangkan keberhasilan tanpa kebermanfaatan sosial hanya melahirkan monumen prestasi yang cepat dilupakan sejarah.

Lebih jauh, dua frasa ini juga menawarkan kritik epistemologis terhadap budaya modern yang terlalu menuhankan kompetensi individual. Di tengah narasi publik yang mengagungkan pencapaian personal, manusia terkadang lupa bahwa keberhasilan sering kali tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari ruang-ruang sosial yang menopang: keluarga yang mendoakan, kolega yang membantu, masyarakat yang memberi kepercayaan, serta kesempatan yang tidak selalu bisa dirancang sepenuhnya. Karena itu, kesadaran faḍl mencegah seseorang dari arogansi intelektual, sementara kesadaran raḥmah menghindarkan pemimpin dari orientasi kekuasaan yang egoistik. Sejarah kepemimpinan menunjukkan bahwa keruntuhan banyak figur besar sering bermula ketika keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan berubah menjadi alasan untuk meninggikan diri.

Pada akhirnya, “Hāżā min faḍli rabbī” dan “Hāżā raḥmatu min rabbī” sesungguhnya bertemu dalam satu rasa: rasa tunduk seorang hamba di tengah keberhasilan yang memuncak. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kebutuhan untuk merawat kerendahan hati. Pemimpin yang matang tidak mudah terlena oleh pujian, tidak cepat menjadikan prestasi sebagai alat pembesaran ego, dan tidak tergesa mengklaim dirinya sebagai pusat segala keberhasilan. Sebab dalam pandangan spiritual yang mendalam, keberhasilan hanyalah titipan, sedangkan kebermanfaatan adalah ujian. Maka, pemimpin yang benar-benar besar bukan mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang tetap rendah hati ketika berhasil dan tetap menghadirkan rahmat bagi kehidupan banyak orang

Tinggalkan Balasan