Sejarah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo bermula dari integrasi lembaga pendidikan pada tahun 1972 yang melahirkan Universitas 23 Januari Gorontalo. Pada tahun yang sama, tokoh Islam dan masyarakat mengusulkan Fakultas Tarbiyah UIG menjadi filial IAIN Alauddin Ujung Pandang, yang kemudian disahkan melalui SK Rektor tahun 1972. Perkembangan berlanjut dengan berdirinya Fakultas Syari’ah dan Ushuluddin pada tahun 1984. Seiring kemajuan tersebut, dilakukan upaya peningkatan status hingga akhirnya berubah menjadi STAIN Sultan Amai Gorontalo berdasarkan Keppres No. 11 Tahun 1997, dan kemudian menjadi IAIN Sultan Amai Gorontalo melalui Keppres No. 91 Tahun 2004.
Saat ini, IAIN Sultan Amai Gorontalo memiliki empat fakultas dengan total 25 program studi, termasuk Fakultas Ushuluddin dan Dakwah yang menaungi tujuh program studi, salah satunya Program Studi Ilmu Hadis. Jurusan Ilmu Hadis, yang dahulu dikenal sebagai Tafsir Hadis, berfokus pada pengkajian dan penelitian hadis serta membekali mahasiswa dengan nilai-nilai al-Qur’an dan hadis. Lulusannya memiliki peluang karier yang luas, seperti pendidik, peneliti, dai, konsultan agama, hingga praktisi media dan konten digital keislaman.
Jurusan Ilmu Hadis tergolong program studi yang relatif baru dalam struktur FUD. Secara resmi, jurusan ini didirikan pada 17 November 2014. Pendirian ini merupakan langkah strategis dalam memperluas spektrum kajian keislaman, khususnya dalam bidang hadis sebagai sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur’an. Momentum ini juga bertepatan dengan fase transformasi kelembagaan IAIN yang semakin mengarah pada penguatan disiplin ilmu keislaman yang spesifik dan profesional.
Posisi Strategis dan Kelangkaan Program Studi:
Secara geografis dan akademik, Jurusan Ilmu Hadis di IAIN Sultan Amai Gorontalo memiliki posisi yang cukup unik, termasuk program studi langka di kawasan Sulawesi. Hanya sedikit perguruan tinggi yang membuka jurusan serupa, seperti di UIN Alauddin Makassar
Kondisi ini menjadikan jurusan Ilmu Hadis di Gorontalo memiliki peluang strategis dalam mencetak spesialis hadis di kawasan Indonesia Timur. Orientasi Akademik dan Pengembangan Keilmuan.
Sejak awal berdirinya, Jurusan Ilmu Hadis dirancang dengan orientasi:
Penguasaan metodologi kritik hadis (ulum al-hadith)
Pemahaman tekstual dan kontekstual hadis
Integrasi hadis dengan realitas sosial kontemporer
Penguatan riset berbasis kitab turats dan pendekatan modern
Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilibatkan dalam penelitian langsung terhadap literatur hadis klasik dan aplikasinya dalam kehidupan modern.
Signifikansi Historis dan Akademik:
Secara historis, keberadaan Jurusan Ilmu Hadis di FUD IAIN Sultan Amai Gorontalo dapat dibaca sebagai,
Respons terhadap kebutuhan lokal: menghadirkan ahli hadis di kawasan Indonesia Timur
Penguatan disiplin ilmu keislaman: dari general ke spesifik
Upaya dekolonisasi epistemologi: menghidupkan kembali otoritas teks hadis dalam konteks kekinian
Dengan demikian, jurusan ini bukan sekadar unit akademik, tetapi bagian dari proyek besar rekonstruksi keilmuan Islam berbasis hadis di tingkat regional dan nasional.
Sejarah Jurusan Ilmu Hadis di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo menunjukkan bahwa ia lahir dari proses panjang transformasi kelembagaan dan kebutuhan epistemologis umat. Dari embrio kecil di era filial hingga menjadi program studi strategis yang langka, jurusan ini memikul tanggung jawab besar: menjaga otoritas hadis sekaligus merelevansikannya dalam dinamika zaman.